Tentang Seleksa

Lahir di studio yang sibuk, bukan di ruang rapat.

Seleksa ada karena sebuah studio foto di Medan kewalahan dengan spreadsheet, tangkapan layar WhatsApp, dan folder bernama 'final_final_revisi_2'. Kami membuat alat yang kami butuhkan sendiri, lalu merapikannya untuk studio lain.

60+

Sesi wisuda ditangani dalam satu hari

3

Langkah bagi klien untuk menyelesaikan pilihan

0

File asli yang diunggah ke server kami

01

Semua dimulai dari musim wisuda

Siapa pun yang pernah menjalankan studio saat musim wisuda di Indonesia tahu kekacauan macam apa yang datang. Bukan soal memotretnya — itu bagian yang mudah. Kekacauannya ada di administrasi.

Di Sudut Studio Medan, satu hari bisa berarti lebih dari enam puluh sesi wisuda. Enam puluh keluarga, masing-masing dengan paketnya: sejumlah foto yang diedit, sejumlah cetakan dalam ukuran tertentu, sebagian dipigura, sebagian tidak. Enam puluh set pilihan yang harus dikumpulkan, diperiksa, dihitung harganya, lalu diteruskan ke editor dan tukang cetak yang tepat.

Alur kerjanya tambal sulam yang bertahan karena tenaga manusia. Klien mengirim nama file lewat WhatsApp, sering berupa tangkapan layar, kadang pesan suara. Staf menyalinnya satu-satu ke spreadsheet. Ada yang menghitung apakah klien melewati kuotanya, lalu menagih selisihnya atau diam-diam menanggung kerugiannya. Setelah itu seseorang duduk menyeret file dari folder berisi dua ribu foto ke folder lain, satu per satu, mencocokkan nama dengan mata pada pukul sebelas malam.

Hambatannya sama sekali bukan kamera. Hambatannya adalah jam-jam antara klien memilih foto dan editor bisa membuka file yang benar.

02

Kesalahan yang terus berulang

Kegagalannya selalu segelintir yang sama, dan semuanya mahal:

  • ·Salah file, nama mirip. Dua foto yang namanya beda satu angka, lalu editor mengerjakan foto yang tidak dipilih klien. Baru ketahuan setelah dicetak.
  • ·Kuota terlewat tanpa sadar. Klien memilih tiga puluh satu foto pada paket dua puluh lima foto, tidak ada yang menghitung teliti, dan studio menanggung enam editan.
  • ·Tambahan yang tak tertagih. Cetak dan pigura tambahan disepakati lewat obrolan, tidak pernah dicatat, tidak pernah masuk invoice.
  • ·Pajak menyalin data. Berjam-jam waktu staf terampil habis untuk mengetik ulang nama file dari tangkapan layar ke spreadsheet.
  • ·Tidak ada jejak. Ketika klien bersikeras pesanannya berbeda, tidak ada yang bisa dicek.

Tidak satu pun dari ini masalah fotografi. Ini masalah entri data yang berkostum fotografi — dan masalah entri data justru itulah gunanya perangkat lunak.

03

Magic Seleksa Tools

Kami punya satu aturan desain: studio tidak boleh mengetik ulang apa pun yang sudah disampaikan klien, dan klien tidak perlu belajar memakai aplikasi. Semua yang kami bangun diukur dengan itu.

  • ·Satu tautan pribadi. Klien membukanya di ponsel, mengetuk foto yang diinginkan, dan langsung melihat kapan kuota paketnya terlewat serta berapa biaya tambahannya.
  • ·Kuota yang menjaga dirinya sendiri. Jatah paket berkurang di depan mata klien, jadi pilihan ke tiga puluh satu pada paket dua puluh lima foto menjadi keputusan berharga, bukan kejutan.
  • ·Catatan menempel pada fotonya. Permintaan revisi tinggal di foto yang dimaksud, bukan terkubur di obrolan tiga hari lalu.
  • ·Auto-Sorter. Seleksa membuat skrip yang dijalankan studio di komputernya sendiri untuk menemukan setiap file terpilih — RAW, JPG, dan sidecar — lalu merapikannya ke folder yang siap diedit. Sesi menyeret file sampai malam pun selesai.
  • ·Ringkasan berharga begitu klien mengirim. Kuota, tambahan, pigura, dan biaya khusus langsung menjadi invoice, plus PDF yang bisa studio teruskan.
04

Mengapa kami menolak menyimpan file asli Anda

Sejak awal kami mengambil keputusan arsitektur yang masih membentuk produk ini: Seleksa tidak mengambil alih penyimpanan file resolusi tinggi milik studio.

Godaannya jelas — beberapa fitur jadi lebih mudah dibangun. Tetapi itu juga berarti studio harus menunggu unggahan selesai sebelum klien bisa mulai memilih, membayar penyimpanan untuk file yang sudah mereka miliki, dan menitipkan satu-satunya salinan foto pernikahan ke server orang lain.

File asli Anda tetap di penyimpanan Anda. Seleksa hanya memakai pratinjau web yang ringan untuk memilih, dan penyortiran terjadi di komputer Anda sendiri. Kami menyebutnya Zero-Server-Load — itulah alasan produk ini cepat dan alasan Kebijakan Privasi kami pendek.

05

Di mana kami sekarang, dan ke mana kami menuju

Seleksa dibangun dan dijalankan dari Medan, Sumatera Utara. Ini lebih berarti daripada kelihatannya: produk ini dirancang mengikuti kenyataan di Indonesia — pembayaran QRIS dan virtual account lewat Midtrans, WhatsApp sebagai jalur utama menghubungi klien, ukuran cetak dan kebiasaan pigura sesuai cara studio lokal menghitungnya, serta antarmuka yang mengutamakan Bahasa Indonesia.

Tim kami masih kecil, dan setiap fitur tetap kami uji dengan pertanyaan yang sama sejak awal: apakah ini mengurangi pekerjaan administrasi di malam hari sebuah studio? Kalau tidak, fitur itu tidak kami rilis.